5 Perdebatan Klasik yang Harusnya Berhenti Dipusingkan Oleh Para Traveler

5 Perdebatan Klasik yang Harusnya Berhenti Dipusingkan Oleh Para Traveler

Tempo hari, sudah mengulas tentang perbedaan antara seorang backpacker dan flashpacker. Di antara semua pejalan polemik soal gaya traveling memang tak dapat dihindari. Atas dalil kecintaan pada kegemaran yang satu ini nampaknya terdapat saja yang mesti diributkan diperbincangkan hingga tuntas.

Kali ini, di antara kontributor situstaruhanbolaterpercaya yang adalah seorang traveler sekaligus travel blogger, Farchan Noor Rachman, atau yang biasa dipanggil Efenerr ini bakal menuturkan sejumlah perdebatan sengit yang terjadi di dunia perjalanan yang tak kunjung usai sampai saat ini. Simak yuk!

Dunia semua pejalan tidak jarang kali menawarkan tidak sedikit pilihan. Mau pergi ke mana, naik apa, hingga menginap di mana, dan melakoni apa di tujuan impian jadi pembicaraan yang tidak terdapat habisnya. Tapi salah satu pilihan-pilihan itu ada pun perdebatan yang tak kunjung usai: saya menyebutnya polemik klasik di dunia perjalanan.

5 Perdebatan Klasik yang Harusnya Berhenti Dipusingkan Oleh Para Traveler
5 Perdebatan Klasik yang Harusnya Berhenti Dipusingkan Oleh Para Traveler

Sebenarnya sungguh unik untuk menyaksikan perdebatan-perdebatan ini dari dua sisi yang berbeda, berikut sejumlah ulasannya menurut keterangan dari pendapat Mas Efeneer:

1. Backpacker vs Turis. Dua tipe traveler yang bertolak belakang, memilih antara kemerdekaan atau kenyamanan

Ini polemik yang barangkali tidak bakal ada ujungnya. Para Backpacker memandang perjalanan mereka murah meriah dan sarat kebebasan, sedangkan Turis memandang perjanan mereka sarat kenyamanan. Backpacker memandang andai menjadi Turis tidak bakal mendapatkan tidak sedikit pengalaman dan diatur-atur, sementara Turis memandang Backpacker ialah orang yang tidak cukup kerjaan sebab bersusah-susah di perjalanan.

Sebenarnya Backpacker dan Turis masing-masing ialah 2 gaya perjalanan yang berbeda. Backpacker identik dengan budget rendah dan ketidakteraturan, sedangkan Turis identik dengan ongkos mahal dan kenyamanan. Masing-masing pasti punya keunggulan dan kekurangannya — Backpacker lebih bebas atau Turis lebih nyaman.

Sebenarnya polemik ini dapat saja usai asalkan setiap saling memahami kerakter perjalanannya. Toh, tidak seluruh orang punya tidak sedikit waktu laksana Backpacker dan tidak seluruh orang punya tidak sedikit uang laksana Turis. Intinya, sekitar mereka mengerjakan perjalanan, baik Backpacker maupun Turis bakal tetap dinamakan sebagai Traveler.

2. Ransel vs Koper. Karena mahal-murahnya perjalananmu tak dapat ditentukan oleh jenis tas yang anda tenteng

Soal ransel vs koper sebetulnya nyambung dengan polemik Backpacker vs Turis. Ransel identik dengan bawaan semua Backpacker, dan Koper ialah bawaan semua turis. Tapi lambat laun Ransel dan Koper justeru jadi emblem atau cap untuk dua gaya perjalanan yang bertolak belakang itu tadi.

Nggak hanya soal gaya berjalannya, ransel dan koper juga tidak sedikit yang memperdebatkan fungsinya. Mungkin ransel memang lebih tepat guna dan gampang dibawa, namun koper walaupun ribet, lebih aman dan mengayomi barang bawaan.

Banyak pun yang mengasosiakan bila berjalan dengan Ransel tersebut pasti pejalan yang hemat atau cari yang murah-murah, dan yang gunakan koper sebaliknya. Padahal andai dilihat-lihat belum tentu, wong kadang harga Ransel kini ini dapat jauh lebih mahal daripada Koper. Bisa jadi koper dan ransel bahwasannya sama — sama-sama mahal!

3. Solo Trip vs Group Trip. Tak seluruh orang berani berlangsung seorang diri, dan tak seluruh orang nyaman berlangsung bersama-sama

Lebih enak sendiri atau lebih enak rame-rame? Penganut solo trip dan grup trip pun setiap punya keyakinannya sendiri-sendiri.

Solo trip seringkali dianut mereka yang hendak bebas dan gak hendak diatur-atur di perjalanan, dengan Solo trip seorang pejalan bebas menilai ke mana dia bakal melangkah. Sementara group trip seringkali disukai untuk mereka yang bersama-sama.

Ada enak dan nggak enaknya, bila Solo Trip lebih bebas sebab kita sendiri yang menilai tujuan, namun tentunya seluruh biaya perjalanan ditanggung sendiri. Sedangkan Group Trip dapat membuat perjalanan lebih murah dengan sharing ongkos, tapi tidak cukup bebas sebab destinasi-destinasi ditentukan menurut kesepakatan.

Sebenarnya tidak terdapat yang benar atau salah, pulang ke personal masing-masing. Tidak seluruh orang berani mengerjakan trip sendirian, tetapi tidak seluruh orang pun nyaman mengerjakan trip bareng-bareng.

4. Gunung vs Pantai. Dua tujuan yang mempunyai tantangan dan keindahan yang bergantung pada selera penikmatnya

Sekarang berpindah soal polemik destinasi, yakni antara Gunung dan Pantai. Pendaki gunung ruang belajar kakap tentunya bakal memandang bahwa menaklukkan gunung yang tinggi ialah sebuah kebanggaan, sementara penyuka pantai bakal bicara pantai berpasir putih dan kedamaian suara nyiur angin dan deburan ombak.

Masing-masing punya argumennya sendiri-sendiri dan terkadang dapat timbul perdebatan melulu karena satu hal, hendak ke gunung atau ke pantai? Ke gunung atau ke pantai setiap mempunyai tantangan dan keindahannya. Gunung memerlukan persiapan yang rinci dan jasmani yang powerful untuk memanjat namun, dikompensasi dengan pemandangan dan perjuangan di puncak gunung.

Pantai memang lebih santai, tetapi juga perlu effort lebih andai pantai yang terpencil, pun harus betah-betah menyangga sinar mentari yang terik dan udara yang menciptakan kulit lengket. Walaupun memang pemandangan biru laut dan putih pasirnya bakal membuai.

Jika masih memperdebatkan soal gunung dan pantai, lebih baik anda ingat-ingat lagi peribahasa Indonesia, asam di gunung dan garam di laut bertemunya di belanga juga.

5. Indonesia vs Luar Negeri. Yaelah, toh destinasi wisatamu tak akan memprovokasi jiwa patriotismemu

Perdebatan pamungkas ialah soal apakah bakal keliling Indonesia atau keliling dunia. Perdebatan ini bahkan melebar hingga membawa-bawa nasionalisme. Sungguh ini ialah perdebatan seru dan barangkali tidak bakal berakhir.

Ada yang hingga bilang seseorang tidak nasionalis dan tidak cinta Indonesia andai tidak keliling Indonesia dulu.

“Ngapain traveling ke luar negeri? Indonesia kan nggak tidak cukup tempat wisata.”

Tapi begini, Indonesia tidak cukup lebih terdiri dari 13.000 pulau, dengan asumsi andai setiap hari beralih satu pulau seseorang baru dapat tuntas keliling Indonesia sekitar 35 tahun. Atau terdapat yang bilang:

“Lebih baik keliling Indonesia dulu lah sebelum keliling dunia.”

Tapi sesungguhnya, traveling ke luar negeri pun sebetulnya bukan berarti tidak nasionalis, tapi memandang dunia lebih luas bakal memperkaya hidup kita. Bisa jadi, ke luar negeri menemukan wawasan baru atau keliling dunia untuk menyaksikan dan mencontoh sesuatu yang dapat membuat Indonesia jadi lebih baik lagi.

5 Perdebatan-perdebatan tersebut tadi yang mengecat dunia perjalanan di Indonesia. Sebagian menarik, beberapa menjurus tidak konstruktif. Namun bila hendak melangkah lebih jauh, lebih baik lupakan perdebatan-perdebatan itu dan terus langkahkan kaki kemanapun hendak melangkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *